Malam itu, ketika hanya lapar yang aku rasa, tiba-tiba dia datang ke arahku. Ke arah meja unik seperti yang ada di mini bar restoran. Dengan tenang dia duduk di samping ku, membuka keripik singkongnya. Mata kami sempat bertemu sebelumnya, tapi seperti biasa aku selalu menghindar. Menghindar dari sorot mata tajam itu. Sorot mata yang sebenarnya aku suka, tapi tak mampu aku kuasai. Jarak kami hanya kira-kira seratus cm, jarak terdekat yang pernah aku alami bersamanya. Namun aku hanya bisa diam, mematung. Gelisah dengan peratanyaan-pertanyaan ku sendiri. Pertanyaan yang selama ini hanya bisa aku tanyakan pada diriku sendiri. Siapa nama panjangnya, berapa umurnya, dimana ia tinggal, dan apakah ia tahu ada aku di dunia ini???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar