Jumat, 14 Oktober 2011

Terang

Malam itu, ketika hanya lapar yang aku rasa, tiba-tiba dia datang ke arahku. Ke arah meja unik seperti yang ada di mini bar restoran. Dengan tenang dia duduk di samping ku, membuka keripik singkongnya. Mata kami sempat bertemu sebelumnya, tapi seperti biasa aku selalu menghindar. Menghindar dari sorot mata tajam itu. Sorot mata yang sebenarnya aku suka, tapi tak mampu aku kuasai. Jarak kami hanya kira-kira seratus cm, jarak terdekat yang pernah aku alami bersamanya. Namun aku hanya bisa diam, mematung. Gelisah dengan peratanyaan-pertanyaan ku sendiri. Pertanyaan yang selama ini hanya bisa aku tanyakan pada diriku sendiri. Siapa nama panjangnya, berapa umurnya, dimana ia tinggal, dan apakah ia tahu ada aku di dunia ini???

Kamis, 28 Juli 2011

Terjaga

Tiba-tiba rasanya cemas..
Penuh tanda tanya dalam hati..
Jadi tak bisa tidur..
Rasa pusing muncul di kepala..
Bercampur rasa mual dan sesak dalam dada..
Terpikir sesuatu di pukul dua..
Ditemani suara detik berkejaran..
Di tengah lampu remang-remang kamar..
Aku tarik lagi selimut..
Karena pendingin udaranya membuat berdiri bulu-bulu roma..
Semakin membuat cemas..
Mencemaskan sebuah keputusan..
Karena aku makin dewasa..
Semakin banyak yang harus diputuskan..
Salah satunya tentangnya..
Tentangnya yang selalu membangunkanku di tengah pagi buta..

Selasa, 21 Juni 2011

Sepenggal Doa

Adil itu milik siapa ya Allah? Milik mereka yang berkuasa kah? Milik mereka yang punya harta berlimpah kah? Apa aku bisa beli adil itu ya Allah? Kalau bisa berapa harganya? Akan kubelikan untuk mereka yang terzalimidemi mempertahankan harga dirinya. Hidup di zaman apa aku ini ya Allah? Saat yang benar terlihat salah, saat yang salah terlihat begitu benar. Berputarkah waktu waktu ya Allah? Kembali kah masa ke zaman jahiliah? Saat kebodohan dan kenistaan menjadi pegangan. Aku takut ya Allah, takut berada di sekeliling setan yang bertopeng. Topeng kewibawaan, topeng keagungan, topeng keadilan. Semua tampak buram dimataku, kehidupan fana yang hanya sementara ini. Jaga selalu hatiku ya Allah, karena kedatangannya yang menghancurkan kian terasa semakin dekat..

Minggu, 01 Mei 2011

Minggu Malam

Aku memulai sesuatu yang tidak siap aku mulai, bahkan mungkin tidak akan pernah siap aku mulai selamanya, tapi tetap kulakukan. Memaksa diri ini melakukan hal yang sulit dilakukan manusia normal. Betapa bodoh memang, menyiksa diri sendiri, memperkosa hak pribadi. Setelah sekian lama mencegah diri ini melakukan sebuah kebodohan, akhirnya tergelincir juga. Entah apa yang ada di pikiran ini waktu itu, semuanya terlalu tiba-tiba. Sampai-sampai aku pun tidak sempat kaget ketika mulai setengah sadar. Saat ini semua semakin buntu, semakin tidak aku temukan jawabannya. Aku ingin bersikap masa bodoh, tapi tetap saja ada rasa was-was yang tidak bisa aku sembunyikan. Seperti menunggu detik berjalan di bom waktu, meskipun aku sabar menunggunya tetap dipastikan bom itu akan meledak juga akhirnya..

Jumat, 18 Februari 2011

“IMEL SANG WARIA PENUH CITA-CITA”


Waria atau biasa kita dengar dengan sebutan lain yaitu banci, selalu menjadi fenomena di kehidupan kita. Ia adalah sosok yang kita kenal memiliki kelainan, tidak hanya dari segi psikologis tapi juga dari segi fisik. Waria yang sesungguhnya laki-laki ini senang menggunakan hal-hal yang berbau perempuan, mulai dari, baju, aksesoris, make up, hingga tatanan rambutnya. Menjadi waria tentunya bukan pilihan yang mudah dan meyenangkan bagi kaum mereka sendiri. Banyak faktor yang membuat orang berkeinginan menjadi waria. Cerita-cerita menarik sering saya dengar mengenai waria ini, tapi ada salah satu yang paling menarik menurut saya yaitu cerita tentang waria bernama Imel.

Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan seorang waria bernama Imel, saya memiliki kesempatan untuk ngobrol-ngobrol bersamanya. Biasanya saya agak takut untuk berurusan dengan orang seperti itu, tetapi Imel adalah waria yang ramah dan menyenangkan jadi saya tidak memiliki alasan untuk takut kepadanya.

Imel adalah waria yang bekerja sebagai penjaja seks, atau seringnya kita kenal dengan sebutan pelacur. Waria berambut panjang ini biasa mangkal di daerah Taman Lawang Jakarta Pusat, sudah empat tahun ia mangkal disana. Imel menceritakan, bahwa awalnya ia bekerja disana karena sudah tidak tahu lagi harus kemana mencari uang. Padahal sebelumnya Imel pernah bekerja secara halal yaitu sebagai pengisi suara dan pelayan restoran, tetapi karena kondisi ekonomi yang semaikin sulit Imel mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Sebagai seorang pendatang dari Bengkulu, tentunya Imel kurang memahami seluku beluk kota Jakarta, hingga akhirnya dari mulut ke mulut ia mendengar juga tentang daerah Taman Lawang dan memutuskan untuk ikut bekerja disana bersama-sama teman waria lainnya.

Selama empat tahun menjadi waria sudah banyak tentunya pengalaman yang ia rasakan, mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang paling buruk. Ketika ditanya pengalaman paling buruk apa yang Imel rasakan selama menjadi waria, wanita berusia 32 tahun ini menceritakan bahwa ia pernah diperkosa oleh 15 orang pria sekaligus. Ngeri benar saya mendengarnya hingga rasanya berdiri semua bulu roma, tetapi Imel terlihat biasa saja menceritakan kisahnya itu. Seolah-olah itu bukanlah hal yang akan membuatnya trauma.

Imel yang mengaku nama aslinya Ahmad ini biasa start di Taman Lawang pukul sepuluh atau sebelas malam, namun ia sendiri sulit menjelaskan kapan jam kerjanya berakhir karena biasanya ia pulang jika hanya badannya sudah terasa capek. Imel tidak mengenal hari libur, baginya setiap hari adalah waktu untuk mencari uang. Ia libur jika hanya ia sedang tidak enak badan atau sakit. Urusan harga sewa, Imel jujur mau menceritakannya. Biasanya paling murah Imel dibayar lima puluh ribu rupiah sekali ‘main’, “Tetapi paling itu hanya main di taman-taman saja mbak” jelasnya. Paling mahal Imel menceritakan, pernah dibayar hingga dua juta rupiah. Untuk Imel itu sebuah prestasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan begitu banyaknya muncul saingan baru yang lebih muda.

Flashback sedikit, saya juga sempat menanyakan bagaimana awalnya Imel merasa dirinya ‘berbeda’ dengan yang lain. Ia menjelaskan, mungkin karena waktu kecil ia lebih sering berkumpul dengan ibu dan adik-adik perempuannya makanya ia lebih memiliki sensitifitas seorang perempuan ketimbang laki-laki. Diceritakannya bahwa ayahnya terlalu sibuk bekerja jadi jarang sekali ada di rumah, sehingga ia sama sekali tidak mendapatkan sosok figur ayah yang bisa ia jadikan contoh ataupun panutan. Si cantik ini mulai merasakan ketidakberesan dalam dirinya ketika ia dulu di kampung sering memergoki teman-teman lelakinya mandi di kali, seperti ada dorongan yang tidak biasa dalam dirinya. Ia juga menceritakan tentang pengalaman cinta pertamanya ketika ia duduk di bangku SMP dulu. Ketika itu ia pernah memiliki sahabat pria bernama Rian, mereka dekat sekali satu sama lain. Rumah mereka pun tidak terlalu berjauhan, sehingga kemana-mana mereka selalu bersama. Sewaktu ketika Imel dan Rian mendapatkan tugas sekolah dari guru, lalu mereka memutusakan untuk mengerjakannya di rumah Imel. Mungkin karena terlalu capek mengerjakan tugas seharian, Imel pun tertidur. Ketika bangun Imel sudah sendirian dan mendapati buku diary-nya tergeletak di lantai dalam keadaan terbuka. Esoknya di sekolah Rian mengajaknya berbicara berdua di kantin, ketiaka Imel menghampirinya dan menanyakan mau bicara apa tiba-tiba saja Rian menamparnya dan menyuruhnya menjauhi dia. Imel sedih dan merasa hancur mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang ia cintai, penolakan Rian kepadanya bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Ingin rasanya ia mencurahkan perasaan sedihnya itu pada orang-orang terdekatnya, seperti keluaraga misalnya, namun tentu saja tidak mungkin pikirnya menceritakan hal tersebut pada ibu atau adik-adiknya, hanya akan menimbulkan luka baru. Apalagi kalau Imel menceritakan hal ini pada ayahnya, “Bisa-bisa dibunuh saya mbak”, tambahnya. Oleh sebab itu makanya Imel akhirnya kabur dari rumahnya di Manak, Bengkulu.

Kembali ke massa sekarang, sebenarnya Imel ingin sekali berhenti bekerja sebagai pelacur waria. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak boleh seperti ini terus, dia ingin mempunyai pekerjaan yang baik, pekerjaan halal yang bisa ia banggakan kepada semua orang. Cita-citanya yaitu memiliki salon kecil-kecilan ataupun bisnis lainnya yang bisa dijadikannya pegangan untuk melanjutkan hidupnya hingga tua nanti, karena ia sadar nantinya ia akan hidup sendiri sampai mati. Bisnis dijadikannya pilihan karena ia hanya lulusan SMP, tidak mungkin menurutnya lulusan SMP mendapatkan pekerjan yang baik di kantoran. Ketika ditanya apakah suatu saat ia akan bertobat kepada Tuhan dengan kembali menjadi seorang pria, ia terlihat ragu-ragu untuk menjawab. Lalu dikatakannya, “Mungkin kalo kembali jadi laki-laki normal sih gak mungkin ya, soalnya jiwa saya udah perempuan banget. Tapi saya akan berusaha menabur kebaikan dengan cara yang lain, bertobat dengan cara yang lain gitu. Lagipula juga sebenernya cita-cita terbesar saya tuh pengen banget jadi perempuan sejati. Menikah terus punya anak deh, tapi kan gak mungkin ya. Jadi saya berusaha hidup sebagai banci tapi dengan cara yang baik-baik aja deh.”

Begitulah kisah hidup seorang Imel, waria yang sebenarnya masih memiliki banyak harapan dan cita-cita. Hanya saja nasibnya kurang beruntung, karena kehidupan tidak selalu seindah dongeng-dongeng di buku bacaan. Akan tetapi sebagai manusia kita selalu diberikan pilihan-pilihan dalam hidup, meskipun kadang pilihan-pilihan itu tidak mudah. Kembali lagi ke manusia itu sendiri, setebal apa imannya untuk menjatuhkan pilihan kepada yang terbaik. Terbaik bukan saja untuk masa sekarang kita hidup di dunia, tetapi juga terbaik untuk bekal kita di akhirat nanti.

Kita semua yang saat ini memiliki kehidupan yang lebih baik patutnya banyak bersyukur kepada Tuhan, karena jelas masih banyak di luar sana orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, seperti Imel contohnya. Paling tidak hargai apa yang sudah kita miliki, jangan sampai menyesal di kemudian hari karena biasanya kita baru sadar sesuatu itu berharga justru setelah kita kehilangan.

Jingga

Diantara mata yang terbuka dan tertutup..

Diantara pagi dan malam hari..

Diantara mimpi dan kenyataan..

Diantara kesendirian dan kesibukan..

Diantara hak dan tanggung jawab..

Diantara keyakinan dan keraguan..

Diantara abu-abu dan merah muda..

Diantara tangis dan tawa..

Diantara rasa was-was dan rasa tenang..

Diantara sikap pesimis dan optimis..

Diantara dukungan dan cacian..

Diantara mendung dan gerimis..

Diantara gelap dan cahaya..

Diantara bunyi gitar dan bel sepeda..

Diantara Bekasi dan Jakarta..

Diantara kamu dan dia..

Hari-hari tetap saja berjalan dan waktu tak pernah terlambat meski hanya satu detik..



Rabu, 16 Februari 2011

NISWAH


Si kecil ini makin hari makin pinter aja deh, dah bisa ngomong, nyanyi, joget, pokoknya macem-macem. Makin bikin gemessssssssss hahaha.. Tapi kata papa “Kalo udah maunya..ya maunya” , mirip kayak aku sih hehe. Dulu nggak pernah ngebayangin kalau akan ada makhluk kecil lucu seperti dia di tengah keluarga ku, tapi toh ternyata sekarang ada. Bikin suasana tambah rame dan menyenangkan. Meskipun kadang aku sering sebut dia monster kecil, tapi aku tetep nggak sanggup marah sama semua kejahilannya. Apalagi kalau dia sudah kasih lihat muka imutnya itu. Pokoknya bawaannya ingin peluk yang kencang dan nggak lepas-lepasin lagi. Sekarang umurnya sudah 2 tahun lebih, dan nggak terasa nanti tiba-tiba sudah TK aja. Pasti lucu pake seragam sekolah TK gitu, ditambah rambut keriting yang dikuncir dua hehe.. Niswah..Niswah..love you deh pokoknya..

Senin, 14 Februari 2011

Hujan

Aku selalu suka hujan, meskipun kadang mambuatku sedikit repot karena harus menenteng-nenteng payung dan menggulung celana, aku tetap selalu suka hujan. Aku merasa hujan melunturkan seluruh keangkuhan ibu kota. Saat hujan turun seketika aku merasa suasananya tenang, damai, dan menyejukkan. Kadang malah membuatku sedikit melankolis hahaha.. Saat hujan juga aku jadi teringat nada-nada pada lagu Blue Day Endah N Rhesa, yang mendayu seperti sedang meninakbobokan aku. Tapi hujan tidak mambuatku jadi mengantuk, justru membangkitkan semangatku. Karena perasaanku senang, pikiranku fresh. Aku jadi bergairah menuangkan isi-isi di kepalaku, isi-isi dalam hatiku, rasa mulas di perutku, gatal yang menggelitik di telapak tanganku, perih di mataku, dan semuanya..semuanya yang aku rasa pada secarik kertas, notebook, Blackberry, atau apa saja yang bisa jadi pelampiasanku. Seperti hari ini, 14 Februari, saat aku tak terlalu perduli pada Valentine..

Selasa, 01 Februari 2011

Pikiran Ngaco

Klo akhirnya hidup adalah tentang sebuah pilihan, knp nggak dari sebelum lahir aja ya kita sebagai manusia boleh milih. Misal'y milih mau jadi laki-laki atau perempuan, atau mau jadi penduduk negara apa, bisa juga misal'y mau milih dilahirin dikeluarga mana. Mungkin kita sebagai manusia nggak akan nyalah2in keadaan atau pihak lain, misalkan aja nyalahin Tuhan. Sering bngt kan tuh tanpa sadar kita suka nyalah2in Zat yang Maha Agung itu, dengan ngomong "Knp sih Tuhan kasih gw ini, knp sih Tuhan ksh gw bgini" dan kalimat-kalimat lain sejenis'y. Padahal tanpa sadar pula ada dosa yg nggak tau deh segede apa(soal'y gw blum prnh liat bentuk'y dosa)numpuk di hidup kita gara2 suka ngomong bgtu. Kita jg suka biasa nyalah2in orang yang bikin hidup kita nggak enak atau mungkin pada kasus yg parah orang itu bikin hidup kita menderita. Akhirnya kita benci sama orang itu, dan nge-blacklist orang itu seumur hidup. So pathetic..

Gw bukan'y jenis manusia yang suka nggak bersyukur, tapi kadang sebagai manusia biasa gw hanya ingin hidup itu berjalan smooth,ringan,seperti berjalan diatas bulan. Tapi itu hanya sekedar pikiran2 ngaco gw aja disela-sela kepenatan, karena toh hidup dah kyk gni dr sono'y. Tetep hrs dijalani dan dinikmati, smoga ga bnyk orng yang suka mikir ngaco kyk gw.
Peace out..