Jumat, 18 Februari 2011

“IMEL SANG WARIA PENUH CITA-CITA”


Waria atau biasa kita dengar dengan sebutan lain yaitu banci, selalu menjadi fenomena di kehidupan kita. Ia adalah sosok yang kita kenal memiliki kelainan, tidak hanya dari segi psikologis tapi juga dari segi fisik. Waria yang sesungguhnya laki-laki ini senang menggunakan hal-hal yang berbau perempuan, mulai dari, baju, aksesoris, make up, hingga tatanan rambutnya. Menjadi waria tentunya bukan pilihan yang mudah dan meyenangkan bagi kaum mereka sendiri. Banyak faktor yang membuat orang berkeinginan menjadi waria. Cerita-cerita menarik sering saya dengar mengenai waria ini, tapi ada salah satu yang paling menarik menurut saya yaitu cerita tentang waria bernama Imel.

Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan seorang waria bernama Imel, saya memiliki kesempatan untuk ngobrol-ngobrol bersamanya. Biasanya saya agak takut untuk berurusan dengan orang seperti itu, tetapi Imel adalah waria yang ramah dan menyenangkan jadi saya tidak memiliki alasan untuk takut kepadanya.

Imel adalah waria yang bekerja sebagai penjaja seks, atau seringnya kita kenal dengan sebutan pelacur. Waria berambut panjang ini biasa mangkal di daerah Taman Lawang Jakarta Pusat, sudah empat tahun ia mangkal disana. Imel menceritakan, bahwa awalnya ia bekerja disana karena sudah tidak tahu lagi harus kemana mencari uang. Padahal sebelumnya Imel pernah bekerja secara halal yaitu sebagai pengisi suara dan pelayan restoran, tetapi karena kondisi ekonomi yang semaikin sulit Imel mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Sebagai seorang pendatang dari Bengkulu, tentunya Imel kurang memahami seluku beluk kota Jakarta, hingga akhirnya dari mulut ke mulut ia mendengar juga tentang daerah Taman Lawang dan memutuskan untuk ikut bekerja disana bersama-sama teman waria lainnya.

Selama empat tahun menjadi waria sudah banyak tentunya pengalaman yang ia rasakan, mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang paling buruk. Ketika ditanya pengalaman paling buruk apa yang Imel rasakan selama menjadi waria, wanita berusia 32 tahun ini menceritakan bahwa ia pernah diperkosa oleh 15 orang pria sekaligus. Ngeri benar saya mendengarnya hingga rasanya berdiri semua bulu roma, tetapi Imel terlihat biasa saja menceritakan kisahnya itu. Seolah-olah itu bukanlah hal yang akan membuatnya trauma.

Imel yang mengaku nama aslinya Ahmad ini biasa start di Taman Lawang pukul sepuluh atau sebelas malam, namun ia sendiri sulit menjelaskan kapan jam kerjanya berakhir karena biasanya ia pulang jika hanya badannya sudah terasa capek. Imel tidak mengenal hari libur, baginya setiap hari adalah waktu untuk mencari uang. Ia libur jika hanya ia sedang tidak enak badan atau sakit. Urusan harga sewa, Imel jujur mau menceritakannya. Biasanya paling murah Imel dibayar lima puluh ribu rupiah sekali ‘main’, “Tetapi paling itu hanya main di taman-taman saja mbak” jelasnya. Paling mahal Imel menceritakan, pernah dibayar hingga dua juta rupiah. Untuk Imel itu sebuah prestasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan begitu banyaknya muncul saingan baru yang lebih muda.

Flashback sedikit, saya juga sempat menanyakan bagaimana awalnya Imel merasa dirinya ‘berbeda’ dengan yang lain. Ia menjelaskan, mungkin karena waktu kecil ia lebih sering berkumpul dengan ibu dan adik-adik perempuannya makanya ia lebih memiliki sensitifitas seorang perempuan ketimbang laki-laki. Diceritakannya bahwa ayahnya terlalu sibuk bekerja jadi jarang sekali ada di rumah, sehingga ia sama sekali tidak mendapatkan sosok figur ayah yang bisa ia jadikan contoh ataupun panutan. Si cantik ini mulai merasakan ketidakberesan dalam dirinya ketika ia dulu di kampung sering memergoki teman-teman lelakinya mandi di kali, seperti ada dorongan yang tidak biasa dalam dirinya. Ia juga menceritakan tentang pengalaman cinta pertamanya ketika ia duduk di bangku SMP dulu. Ketika itu ia pernah memiliki sahabat pria bernama Rian, mereka dekat sekali satu sama lain. Rumah mereka pun tidak terlalu berjauhan, sehingga kemana-mana mereka selalu bersama. Sewaktu ketika Imel dan Rian mendapatkan tugas sekolah dari guru, lalu mereka memutusakan untuk mengerjakannya di rumah Imel. Mungkin karena terlalu capek mengerjakan tugas seharian, Imel pun tertidur. Ketika bangun Imel sudah sendirian dan mendapati buku diary-nya tergeletak di lantai dalam keadaan terbuka. Esoknya di sekolah Rian mengajaknya berbicara berdua di kantin, ketiaka Imel menghampirinya dan menanyakan mau bicara apa tiba-tiba saja Rian menamparnya dan menyuruhnya menjauhi dia. Imel sedih dan merasa hancur mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang ia cintai, penolakan Rian kepadanya bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Ingin rasanya ia mencurahkan perasaan sedihnya itu pada orang-orang terdekatnya, seperti keluaraga misalnya, namun tentu saja tidak mungkin pikirnya menceritakan hal tersebut pada ibu atau adik-adiknya, hanya akan menimbulkan luka baru. Apalagi kalau Imel menceritakan hal ini pada ayahnya, “Bisa-bisa dibunuh saya mbak”, tambahnya. Oleh sebab itu makanya Imel akhirnya kabur dari rumahnya di Manak, Bengkulu.

Kembali ke massa sekarang, sebenarnya Imel ingin sekali berhenti bekerja sebagai pelacur waria. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak boleh seperti ini terus, dia ingin mempunyai pekerjaan yang baik, pekerjaan halal yang bisa ia banggakan kepada semua orang. Cita-citanya yaitu memiliki salon kecil-kecilan ataupun bisnis lainnya yang bisa dijadikannya pegangan untuk melanjutkan hidupnya hingga tua nanti, karena ia sadar nantinya ia akan hidup sendiri sampai mati. Bisnis dijadikannya pilihan karena ia hanya lulusan SMP, tidak mungkin menurutnya lulusan SMP mendapatkan pekerjan yang baik di kantoran. Ketika ditanya apakah suatu saat ia akan bertobat kepada Tuhan dengan kembali menjadi seorang pria, ia terlihat ragu-ragu untuk menjawab. Lalu dikatakannya, “Mungkin kalo kembali jadi laki-laki normal sih gak mungkin ya, soalnya jiwa saya udah perempuan banget. Tapi saya akan berusaha menabur kebaikan dengan cara yang lain, bertobat dengan cara yang lain gitu. Lagipula juga sebenernya cita-cita terbesar saya tuh pengen banget jadi perempuan sejati. Menikah terus punya anak deh, tapi kan gak mungkin ya. Jadi saya berusaha hidup sebagai banci tapi dengan cara yang baik-baik aja deh.”

Begitulah kisah hidup seorang Imel, waria yang sebenarnya masih memiliki banyak harapan dan cita-cita. Hanya saja nasibnya kurang beruntung, karena kehidupan tidak selalu seindah dongeng-dongeng di buku bacaan. Akan tetapi sebagai manusia kita selalu diberikan pilihan-pilihan dalam hidup, meskipun kadang pilihan-pilihan itu tidak mudah. Kembali lagi ke manusia itu sendiri, setebal apa imannya untuk menjatuhkan pilihan kepada yang terbaik. Terbaik bukan saja untuk masa sekarang kita hidup di dunia, tetapi juga terbaik untuk bekal kita di akhirat nanti.

Kita semua yang saat ini memiliki kehidupan yang lebih baik patutnya banyak bersyukur kepada Tuhan, karena jelas masih banyak di luar sana orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, seperti Imel contohnya. Paling tidak hargai apa yang sudah kita miliki, jangan sampai menyesal di kemudian hari karena biasanya kita baru sadar sesuatu itu berharga justru setelah kita kehilangan.

2 komentar:

  1. Ya itulah kehidupan...banyak pilihan, saya rasa tidak banyak orang memahami apa yang dirasakan oleh Imel. Orang-orang seperti Imel ingin dihargai, ingin dicintai dan ingin mendapat pelukan hangat dan dikasihi seutuhnya sebagai seorang pribadi. Akan tetapi stigma, standar moral yang dianut oleh lingkungan kita lah yang menolak keberadaan orang-orang seperti Imel.

    BalasHapus
  2. Biar seperti apa mereka adalah bagian dari kita,
    Cuman mereka hanya terambisi oleh hawa nafsu dunia aja, kalau kembali seperti lelaki normal imposible, jadi dijalani aja semoga mereka mendapatkan hidayah dari tuhan YME.

    BalasHapus